.

Definition List

Selasa, 04 September 2012

Kisah-kisah Tokoh Kesultanan Banten

1. Maulana Hasanuddin merupakan seorang pendiri Kesultanan Banten. Ia juga bergelar Pangeran Sabakingkin dan berkuasa di Banten dalam rentang w

aktu 1552 - 1570.
Berdasarkan Sejarah Banten, Maulana Hasanuddin merupakan salah seorang putera dari Sunan Gunung Jati. Bersama Kerajaan Demak, Ia turut serta dalam penaklukan Pelabuhan Kelapa sekitar tahun 1527 yang waktu itu masih merupakan pelabuhan utama dari Kerajaan Sunda.

Kemudian melanjutkan perluasan kekuasaan ke daerah penghasil lada di Lampung. Ia mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan dan kemudian menjadi pusat pemerintahan, setelah Banten menjadi kerajaan sendiri.

2. Maulana Yusuf atau Pangeran Pasareyan merupakan putra dari Maulana Hasanuddin pendiri Kesultanan Banten. Ia melanjutkan kekuasaan bapaknya di Banten dalam rentang waktu 1570 - 1585.
Berdasarkan Sejarah Banten, setelah Maulana Hasanuddin meninggal pada tahun 1570, Maulana Yusuf naik tahta, kemudian melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda, dengan menaklukan Pakuan Pajajaran pada tahun 1579.

3. Maulana Muhammad atau Pangeran Sedangrana merupakan putra dari Maulana Yusuf, ia memerintah sebagai penguasa di Banten pada rentang waktu 1585 - 1596.
Berdasarkan Sejarah Banten, Maulana Muhammad naik tahta dalam usia yang belum dewasa, sehingga dalam penyelengaraan pemerintahan di Banten waktu itu ia dibantu dengan sistem perwalian.
Maulana Muhammad, seperti pendahulunya ia juga melakukan perluasan wilayah Kesultanan Banten, namun meninggal dunia di Palembang sewaktu mencoba menundukkan kawasan tersebut.


4. Pangeran Ratu berarti Raja Muda dan Putra Mahkota di kerajaan-kerajaan Kalimantan misalnya Pangeran Ratu Muhammad Tarhan (raja Kesultanan Sambas saat ini). Gelar Pangeran Ratu otomatis untuk putera tertua Sultan, yang bakal menjabat Sultan (kepala negara) berikutnya, sedangkan putra kedua disebut Pangeran Mangkubumi, yang bakal menjabat mangkubumi (kepala pemerintahan). Di Kesultanan Banjarmasin secara bertahap gelar Pangeran Ratu meningkat menjadi gelar Sultan Muda, kemudian berhak memakai gelar Sultan sepenuhnya setelah resmi menggantikan Sultan terdahulu. Terdapat pula penguasa kerajaan-kerajaan kecil yang tidak berhak memakai gelar Sultan, tetapi hanya pada level Pangeran Ratu (setingkat Panembahan) misalnya di Kerajaan Kotawaringin yang merupakan cabang Kesultanan Banjar.


5. Sultan Ageng Tirtayasa (Banten, 1631 – 1683) adalah putra Sultan Abdul Ma'ali Ahmad dan Ratu Martakusuma yang menjadi Sultan Banten periode 1640-1650. Ketika kecil, ia bergelar Pangeran Surya. Ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia, ia diangkat sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah.
Nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa (terletak di Kabupaten Serang). Ia dimakamkan di Mesjid Banten.
Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa di Kesultanan Banten pada periode 1651 - 1683. Ia memimpin banyak perlawanan terhadap Belanda. Masa itu, VOC menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten. Kemudian Tirtayasa menolak perjanjian ini dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka.
Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar. Di bidang ekonomi, Tirtayasa berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi. Di bidang keagamaan, ia mengangkat Syekh Yusuf sebagai mufti kerajaan dan penasehat sultan.
Ketika terjadi sengketa antara kedua putranya, Sultan Haji dan Pangeran Purbaya, Belanda ikut campur dengan bersekutu dengan Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa. Saat Tirtayasa mengepung pasukan Sultan Haji di Sorosowan (Banten), Belanda membantu Sultan Haji dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Kapten Tack dan Saint-Martin.
Silsilah Sultan Ageng Tirtayasa
.Sultan Ageng Tirtayasa @ Sultan 'Abdul Fathi Abdul Fattah bin
.Sultan Abul Ma'ali bin
.Sultan Abul Mafakhir bin
.Sultan Maulana Muhammad Nashruddin bin
.Sultan Maulana Yusuf bin
.Sultan Maulana Hasanuddin bin
.Sultan Syarif Hidayatullah

6. Sultan Abu Nashar Abdul Qahar atau dikenal dengan Sultan Haji merupakan seorang sultan pada Kesultanan Banten, berkuasa di Banten dalam rentang waktu 1683 - 1687.
Sultan Haji merupakan salah seorang putera dari Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah atau Sultan Ageng Tirtayasa. Ia naik tahta mengantikan ayahnya setelah terjadi pertikaian di antara mereka dan mengakibatkan perang saudara di Banten.
Sultan Haji juga sempat mengirimkan 2 orang utusannya, menemui Raja Inggris di London tahun 1682 untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan.

7. Paduka Sri Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin atau Sultan Aliuddin dilahirkan di Kota Intan pada 2 Juli 1752 adalah Sultan Banten yang memerintah pada tahun 1773-1799.
Sultan Aliuddin merupakan putra dari Sultan Arif Zainul Asyiqin al-Qadiri dan Ratu Sultan Gusti. Ia naik tahta setelah ayahnya meninggal dunia tahun 1773.

8. Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin merupakan seorang sultan pada Kesultanan Banten. Ia juga dikenal dengan nama Sultan Ishaq dan berkuasa di Banten dalam rentang waktu 1803 - 1808.
Sultan Ishaq naik tahta menggantikan Sultan Muhammad Muhyiddin Zainussalihin. Pada masa pemerintahannya terjadi pertikaian dengan Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1810, dan ia ditangkap kemudian diasingkan ke Batavia. Selanjutnya pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda.

9. Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin merupakan seorang sultan pada Kesultanan Banten. Ia juga dikenal dengan nama Sultan Muhammad Syafiuddin dan berkuasa di Banten dalam rentang waktu 1809 - 1813.
Sultan Muhammad Syafiuddin merupakan salah seorang putera dari Sultan Muhammad Muhyiddin Zainussalihin. Ia naik tahta mengantikan Sultan Ishaq yang menjadi raja sebelumnya, telah ditangkap oleh Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1810, dan diasingkan ke Batavia.
Pada masa kekuasaannya Kesultanan Banten telah begitu lemah, akibat tekanan dari beberapa kekuatan global yang silih berganti memengaruhi Kesultanan Banten. Sebelumnya pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda.
Kemudian pada masa pemerintah kolonial Inggris, sekitar tahun 1813, Sultan Muhammad Syafiuddin dilucuti dan dipaksa turun tahta oleh Thomas Stamford Raffles, sekaligus mengakhiri riwayat Kesultanan Banten.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More